Posts

Perpustakaan Mini di Sudut Kota Bekasi

Senang sekali akhirnya bisa mewujudkan sebuah impian yang telah dimiliki sejak lama. Sebuah perpustakaan mini di ruang terbuka. Semakin senang saat melihat anak-anak antusias satu per-satu mendatangi lemari buku yang berbentuk rumah-rumahan dengan ukuran 60 x 60 cm. Konsep anti mainstream ini lahir sejak seringnya saya mengunjungi berbagai perpustakaan di Indonesia yang pada umumnya menggunakan sebuah ruangan tertutup dengan rak-rak dipenuhi koleksi buku yang menutupi hampir setiap dindingnya. Hal ini melahirkan berbagai pertanyaan di kepala saya; haruskah bentuk perpustakaan selalu seperti ini? haruskah perpustakaan dikenal sebagai tempat paling membosankan di dunia ini? apakah perpustakaan tidak bisa dibuat sedemikian rupa agar terlihat lebih menarik untuk dikunjungi dan terasa lebih nyaman untuk berlama-lama ada di dalamnya? Rupanya dari berbagai pertanyaan di kepala saya itulah kemudian muncul ide-ide untuk segera diwujudkan. Untuk mewujudkan ide saya menjadi nyata, persiapan demi

Sebuah Perjalanan Bersama Kaki yang Terus Melangkah

Image
Kerap kali kita merasa bimbang menentukan kemana harus melangkahkan kaki. Kerap kali pertanggung jawaban atas setiap langkah itu pun menjadi satu-satunya alasan baku pada setiap kebimbangan itu. Ya. Melangkahlah sejauh-jauhnya, tapi satu yang harus kau ingat, pertanggung jawabkan setiap langkah yang kau tempuh. Oktober 2017 silam, saya duduk di satu kursi di sebuah gedung yang berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bersama para peserta wisuda lainnya. Lega sekali rasanya saat sebelumnya saya dinyatakan lulus sidang dengan nilai A pada penelitian skripsi saya. Saat itu saya merasa telah berhasil memberikan sebuah hadiah terbesar untuk diri saya sendiri pada akhir masa studi S1 saya, juga untuk kedua Orangtua saya. Bagaimana tidak? Perjalanan yang saya tempuh cukup berbeda jauh dengan perjalanan yang mungkin ditempuh oleh teman-teman seangkatan saya saat itu.  Kuliah dan kerja, kerap kali menjadi dua hal yang bertentangan karena tidak semua orang mampu menjalani keduanya secara  bal

Mengenal Lebih Dekat Sosok Rahmah El Yunusiyyah

Ada sosok perempuan yang masa mudanya dihabiskan untuk memperjuangkan pendidikan di Bumi Pertiwi ini. Namanya memang tidak seharum RA Kartini, namun perjuangannya begitu membekas untuk bangsa ini. Sangat wajar jika hingga saat inii sekitar 93% kaum millenial merasa asing saat mendengar namanya disebutkan. Ya, ia adalah Rahmah el Yunusiyah. Rahmah diberi gelar  Bintang Mahaputra Adipradana dan tidak diragukan lagi jasa-jasanya dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan Islam pada perempuan. Ia seorang pelopor yang tidak hanya memperjuangkan hak perempuan atas pendidikan, namun ikut serta meningkatkan derajat perempuan di wilayah Sumatera pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Rahmah lahir pada 20 Desember 1900 di Bukit Surungan, Padang panjang. Ia adalah putri bungsu dari lima bersaudara. Kakaknya, Zainuddin Labay, Mariah, Muhammad Rasyad, dan Rihanah adalah tokoh-tokoh yang ikut berperan dalam mendukung perjuangan Rahmah. Ayah Rahmah adalah seorang ulama terkenal bernama Syaikh Muha

My Only One Favorite Song

Title: A Million Dreams , A Song by Hugh Jackman, Michelle Williams, and Ziv Zaifman Lyrics: I close my eyes and I can see The world that's waiting up for me That I call my own Through the dark, through the door Through where no one's been before But it feels like home They can say, they can say it all sounds crazy They can say, they can say I've lost my mind I don't care, I don't care, so call me crazy We can live in a world that we design 'Cause every night I lie in bed The brightest colours fill my head A million dreams are keeping me awake I think of what the world could be A vision of the one I see A million dreams is all it's gonna take Oh a million dreams for the world we're gonna make There's a house we can build Every room inside is filled With things from far away The special things I compile Each one there to make you smile On a rainy day They can say, they can say it all sounds crazy They can say, they can say we've lost our minds I d

Terima Kasih, Allah..

Bagi saya, hidup itu memang selalu berproses. Ya. Proses demi proses harus dilalui untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ada beragam proses, banyak proses, mau yg seneng ampe yg sedih, mau yg suka ampe yg duka, mau yg enak ampe yg ga enak, mau yg manis, asem, asin ampe yg pahit, kudu diterima. namanya juga proses. Selain proses, hidup manusia pun butuh pengalaman. Dan sebaik-baik pengalaman adalah yg mengajarkan. Namun, sering kali, kita, sebagai manusia merasa bahwa banyak pengalaman yang hanya lewat begitu saja. Tidak memberi sentuhan kepada yang mengalaminya. Tidak menggoreskan pelajaran dalam lembaran kehidupannya. Tidak juga menaruh sesuatu yang bisa diambil pelajarannya. Padahal sejatinya setiap pengalaman itu mengajarkan. Kitanya aja yang enggak peka. Bicara soal proses dan pengalaman, saya ingin berbagi sedikit cerita yang pernah saya alami sebelum ini. Tepat setahun yang lalu, saya mengambil sebuah keputusan yang begitu besar dalam hidup saya. Ya. Kala i

17 April 2021

Ga terasa, kembali datang tanggal itu. 17 April. Kedatangannya bukan sebagai perayaan, tapi sebagai pengingat atas berkurangnya jatah hidupku di dunia ini. Sekaligus untuk intropeksi diri tentang apa saja yang sudah aku lakukan selama ini. Apakah selama ini hidupku sudah cukup berarti untuk orang lain? Atau justru sebaliknya. Ada satu kata bijak yang selalu kupegang; Jadi MANFAAT untuk sekitar. Kalau belum mampu, jangan jadi BEBAN !!!!! Aku mungkin belum jadi apa-apa sampai saat ini. Bahkan masih banyak mimpi-mimpi yang ingin kujadikan nyata. Ternyata benar kata orang-orang. Jangan memandang sesuatu dari usiamu, apalagi soal keberhasilan dalam hidup. Karena ada Allah yang maha memberikan takdir terbaik untuk kita semua. Seusiaku, ada yang sudah lulus S3, namun ada pula yang baru memulai S1. Seusiaku, ada pula yang sudah menikah bahkan sudah punya banyak keturunan, namun ada pula yang masih betah sendirian dan terus mengejar karirnya. Takdirku dan takdir mereka tidak selalu sama. Tapi

Acc Sidang Tesis Jalur Sholawat

Alhamdulillah kemarin (11 Agustus 2020) aku acc sidang tesis. Sidangnya sih masih tanggal 2 September 2020 nanti.. Hehehe. Batas akhir pengumpulan naskah di tanggal 19 Agustus 2020. Dan hari ini, aku lagi riweuh-riweuhnya nyiapin naskah buat dikumpulin ke sekretariat pascasarjana, tapi break dulu lah yaa buat nulis kisah dibalik acc sidangku ini.. Terakhir aku bimbingan tesis itu tanggal 16 Juni 2020. Nah, di hari itu aku sekaligus dikasih surat izin penelitian, acc ambil data di lapangan. Oke. Sejak hari itu, udah mulai kebayang tuh tentang penelitian yg mau aku jalani. Data apa aja yang harus aku ambil di lapangan. Mulai dari siapa respondennya, pertanyaan wawancara, sampai ke arsip dokumentasi semuanya beneran udah kebayang banget. Tapiiiiii karna mager parah, aku akhirnya skip. Enggak melakukan apapun. Enggak ada bolak-balik penelitian. Enggak ngerjain revisi. Enggak ngapa-ngapain dah pokoknya. Udah mah mageran, ditambah lagi aku orangnya emang kelewat santuy.. haha. sant