The Difference


Difference. Yap! Satu hal yang sangat menonjol di kehidupan dan agaknya hal ini juga tidak pernah gagal dalam menarik perhatian kita adalah perbedaan. Karna dalam perjalanan hidup, akan selalui dijumpai beragam perbedaan. Namun perbedaanlah yang hadirnya memberi warna dalam hidup setiap manusia. Itulah yang menjadi alasan kerap kali timbul pertanyaan, “kenapa sih harus ada perbedaan?”

Perbedaan ras, perbedaan suku, perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, perbedaan gaya hidup, dan lain-lain. Gak usah jauh-jauh. Di tulisan kali ini aku mau ajak teman-teman untuk membahas perbedaan dalam sebuah keluarga.

Kok bisa, sih? Kan dalam satu keluarga. Masa ada yang berbeda?

Jangankan sesama manusia yang sudah jelas berbeda keluarga, beda latar belakang pendidikan di masa lalu, mereka yang lahir dalam satu keluarga saja tidak jarang menemukan perbedaan dalam diri masing-masing. Seorang kakak dengan adiknya, seorang anak dengan ibu atau ayahnya, dalam berbagai titik komunikasi, mereka sering kali menemukan perbedaan-perbedaan yang kiranya cukup menonjol diantara mereka.

Saat si kakak mendambakan X, ternyata adiknya mendambakan Y, Z, bahkan A.
Saat si anak menginginkan A, ternyata orangtuanya menginginkan B, C, bahkan Z.

Aku personally pernah mengalami hal ini. Maka aku bisa menyimpulkan bahwa keadaan seperti ini adalah wajar. Perbedaan dalam masing-masing personal bukan hal yang luar biasa adanya. Namun untuk orang lain, mereka mengatakan bahwa perbedaan ini tidak wajar, apalagi di kalangan keluarga.

“Ya ampun.. kakak sama adik kok berantem terus!”
“Gak ada yang mau ngalah nih?”
“Duh.. rumah kayak kapal pecah.. ribuuuuuutttt terus!!!”
“Anak macam apa kamu? Dibilangin orang tua gak nurut!”
“Sebagai anak, kamu harusnya nurut sama kata-kata orangtua.”
“Berantem terus setiap hari. Malu sama tetangga.” dll.

Bahkan ironisnya, ada orang tua yang sama sekali gak pernah bertanya dan memberikan waktu si anak untuk mengemukakan pendapatnya, memilih pilihannya sendiri, dan selalu saja meminta anak untuk mengikuti apa maunya. I know, gak ada orang tua yang berupaya memberikan hal buruk untuk anaknya. Tapi, mereka lupa bahwa si anak juga manusia. Dia punya hak seperti anak-anak yang lain untuk menyampaikan apa yang dia mau.

Apalagi, seiring berjalannya waktu, si anak semakin bertambah dewasa dan semakin mampu mempertimbangkan segala hal baik dan buruk dalam hidupnya. Tapi saat dia berupaya menyampaikan hal itu, orang tuanya berbaik arah dan mengatakan,

“Dasar! Anak keras kepala!”
“Jadi anak kok gak pernah mau diarahin sama orang tua!”
“Bantah aja terus apa omongan orang tua!”
“Jadi anak gak pernah mau nurut sama omongan orang tua!” dll.

Aku sendiri gak tega sama anak-anak yang terpaksa harus ada di posisi itu. Mereka harusnya bisa hidup lebih independent. Mereka harusnya bisa berkarya lebih banyak lagi. Namun, keadaan memaksa mereka untuk berbeda dengan anak-anak seusianya. Mereka bahkan harus menghancurkan segala ide kreatifnya tanpa sempat disalurkan sedikit pun.

Mereka terperangkap dalam pikiran orang tuanya yang menganggap bahwa keberhasilan seorang anak adalah ketika si anak menjadi bagian dari PNS dengan jaminan masa depan yang cukup aman saat mereka pensiun nanti.

Aku merasa bahwa perbedaan tercipta bukan untuk memicu pertengkaran, tapi untuk membuat kita saling mengerti satu sama lain. Tapi lagi-lagi ini bukan hal mudah, tentunya. Jauh di dalam lubuk hati setiap orang selalu tersirat rasa ingin dimengerti, entah diungkapkan atau nggak, dan rasa itu akan tetap ada sampai kapan pun. It’s normally..

Hal tersulit dalam menyikapi perbedaan adalah mau mengerti keinginan orang lain, karna tidak jarang kita terseret ego sendiri yang akhirnya menjadi bumerang untuk kita sendiri.

Berbagai kalimat motivasi soal menahan ego bahkan sering kali menjadi sia-sia tanpa bentuk, seperti abu yang perlahan habis tertiup angin. Menurunkan ego bukan satu-satunya cara instan yang bisa kita lakukan. Jangankan untuk mereka yang baru berhadapan dengan masalah perbedaan, mereka yang sudah berjuta kali saja masih sering gagal, tuh.

Well, gak sedikit anak yang tanpa sadar mengidap gangguan mental health, bukan karna tekanan dari orang luar, melainkan dari lingkup keluarganya sendiri.

Dampaknya? Si anak jadi takut mengemukakan pendapatnya dimana pun dia berada, selalu minder saat bertemu banyak orang di sekitarnya, selalu menutup dirinya dari keramaian, bahkan selalu merasa sendiri walau dia tengah berada di khalayak ramai. Kondisi kepribadiannya tidak sewajar anak-anak seusianya yang selalu berani mengemukakan keputusan, menyampaikan pendapat, mereka juga dapat berbaur bersama teman-temannya yang lain dengan penuh keceriaan.

Itu aja? NO!

Sikap yang terbentuk dalam diri anak di kemudian hari akan menjadi keras seiring berjalannya waktu. Si anak menjadi acuh dengan sekitar, merasa bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain, tidak peduli akan apa yang orang lain katakan, dan tidak mau melakukan apapun yang tidak ia sukai.

Batinnya tertekan. Dia begitu merindukan kebebasan dalam hidupnya.

Seperti yang ku bilang sebelumnya, setiap perbedaan adalah wajar. Yang bikin jadi gak wajar adalah sikap yang dilakukan dalam menyikapi perbedaan itu sendiri.

***

Satu hal yang membuatku yakin; jika perbedaan sukar disamakan, setidaknya ada pelajaran bagai harta karun yang kamu temukan di sana. Dan jika tidak kamu temukan sekarang, pasti nanti.

Mirisnya, keadaan kayak gini gak cuma terjadi di satu/dua keuarga, tapi di banyak keluarga. Banyak anak-anak yang akhirnya jadi down karna keadaan keluarganya yang kayak gini. Dan dampaknya bahkan akan terus dibawa sampai si anak dewasa nanti. Trauma. Bahaya.

Pesanku, nanti kalau jadi orang tua jangan terlalu keras yaa sama anak. Hehehe. Jangan terlalu memaksakan kehendak kita sebagai orang tua. Karna toh setiap anak bisa memilih jalannya sendiri. Tugas orang tua cukup mengarahkan dan mengawasi aja.

Sekian.
Semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

Perpustakaan Mini di Sudut Kota Bekasi

Acc Sidang Tesis Jalur Sholawat

My Only One Favorite Song