Belajar dari Sebuah Kehilangan

Bicara tentang perjalanan hidup, sering kali enggak ada ujungnya. Masing-masing kita punya perjalanannya sendiri, ada lika-liku kehidupan yang mau enggak mau harus dijalani, bukan hanya diliatin aja. Hehehe Kadang, kalau sudah lelah kita menghela nafas sejenak dan berkata; "Yah, namanya juga hidup."

Siklus perputaran kehidupan sering kali membuat kita gagal untuk mengerti, mengapa semua yang ada di dunia ini sifatnya hanya sementara? Apa maksudnya? Apa tujuannya? Dan kenapa Allah menciptakannya seperti ini? Bukankan yang namanya kebahagiaan itu harus abadi?

Ada yang memulai perjalanan hidupnya dari nol. Kemana-mana naik kendaraan umum sebab enggak punya kendaraan pribadi. Hingga sampailah dia pada titik dimana dia punya kendaraan pribadi. Enggak tanggung-tanggung, kendaraan pribadinya berupa mobil mewah. Enak bener dah. Kemana-mana dia pakai mobil mewah.

Tapi karna adanya siklus, suatu hari Allah ambil lagi itu mobil. Allah tarik kembali. Gimana cara Allah menarik kembali mobil mewah tersebut? Allah kasih dia kecelakaan yang hebat sehingga rusaklah mobilnya. Hancur dan enggak bisa dipakai lagi. Allahu Akbar..

Kemudian kembali lagi dia ke nol.

Enggak punya mobil lagi. Kemana-mana harus naik angkutan umum lagi. Kenapa Allah ngambil mobilnya? Apa alasan Allah? Tujuannya apa? Hanya satu jawabannya, yakni supaya kita sebagai manusia enggak senantiasa merasa memiliki apa yang telah dimiliki di dunia ini. Allah ingin menyadarkan kita bahwa semua ini hanya titipan dari-Nya, maka ketika Allah ambil pun kita harus ikhlas. Lillah.. Jadi, ketika kita merasa kehilangan apa yang telah kita miliki, yaa ikhlasin aja..

siklus ini akan kembali berputas dan akan terus berputar. Enggak usah kaget. Enggak perlu khawatir berlebih. Kurang-kurangin tuh ngeluhnya, ngedumelnya.

Yakin aja, kelak akan ada hikmah dibalik semua yang terjadi.

Kehilangan mobil akibat kecelakaan, yakin aja 2 sampai 3 bulan kemudian bakalan ada gantinya. Mobil yang lebih mewah lagi, yang sesuai dengan kebutuhan kita.

***

Sehari menjelang lebaran Idul Fitri tahun 2018, aku dan keluarga berangkat ke Jepara, tanah kelahiran orangtua kami. Qadarullah.. kami kecelakaan. Mobil hancur berantakan. Ikhlas? Banget.

Lokasi kecelakaannya di Demak. Harusnya sekitar 2 atau 3 jam lagi kami tiba di Jepara. Tapi, karena kami harus ngurus semua keperluan pasca kecelakaan, maka kami baru tiba di Jepara sekitar 6 jam kemudian. Naik apa? Naik mobil yang dibantu dengan derek.

Alhamdulillah.

Lho kok kena musibah tapi alhamdulillah? Ya. Alhamdulillah, karena kami sekeluarga masih diberi kesehatan. Tidak ada korban nyawa pada kecelakaan tunggal kami hari itu.

Setibanya di Jepara, mobil dibawa ke bengkel untuk dibetulkan. Biayanya cukup besar. Kami masih mempertimbangkan banyak hal terkait biaya yang dibutuhkan untuk pembetulan mobil kami. Hingga atas izin Allah datanglah seseorang ke bengkel. Dia lihat mobil kami. Lalu berniat untuk membelinya. Masya Allah.. mobil udah hancur berantakan tapi malah ada orang tiba-tiba dateng mau beli. Ini orang pasti kiriman Allah. Enggak mungkin kalau dia dateng sendiri tanpa takdir Allah.

Kemudian terjadilah negosiasi harga.

Dan akhirnya fix mobil kami lepas dengan harga yang masih terbilang tinggi. Barakallah..

Lantas, gimana caranya kami pulang dari Jepara? Kami sekeluarga naik angkutan umum, yaitu bis. Hikmah lain di balik kecelakaan ini adalah akhirnya kami kembali merasakan naik bis jarak jauh setelah bertahun-tahun selalu naik kendaraan pribadi.

Selang 3 bulan kemudian kami kembali memiliki sebuah mobil. Alhamdulillah.. Mobil dengan merek yang sama namun tipenya lebih tinggi dari mobil yang sebelumnya.

Lagi-lagi Allah menepati janji-Nya, bukan?

***

Mustahil rasanya, jika tanpa izin Allah kami bisa dipertemukan dengan pembeli yang akhirnya membeli mobil kami walau telah hancur berantakan. Dan kembali memiliki mobil dengan tipe yang lebih baik dari sebelumnya hanya dalam waktu 3 bulan.

Dari tulisan ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa apapun yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Allah bisa mengambilnya kapanpun Allah mau. Maka yang bisa kita lakukan hanya ikhlas dengan segala ketetapan-Nya dan yakin akan apa yang direncanakan kemudian.

Kurangin ngeluhnya, kurangin ngedumelnya.
Banyakin ikhlasnya, banyakin syukurnya.


Sekian.
Semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

My Only One Favorite Song

Perpustakaan Mini di Sudut Kota Bekasi

Acc Sidang Tesis Jalur Sholawat