Dibalik Perjalanan Umroh


"Enak banget ya jadi lo."
"Yaiyalah sultan, wajar sih."
"Ah kalo lo yang berangkat umroh sih ga aneh."
"Apa?! Lo mau umroh lagi? Gue aja beloman."
"Ha?! Umuran segini udah umroh dua kali?!"
"Duit lo kok ga abis-abis sih?!"
"Gaji lo berapa sih emangnya?"
"Kuliah jalan, umroh juga jalan."
"Wihhh!! Rajin juga ya lo nabung buat umroh."
dll.

Begitulah penilaian orang selama ini, tentang perjalanan umrohku. Gapapa, biar jadi doa. Beneran jadi orang kaya dengan uang yang banyaaaaaak banget, jadi pengusaha yang bisa ngeberangkatin karyawannya umroh.. Aamiin..

Melalui tulisan ini aku mau ceritain gimana sih di balik perjalanan umrohku. Semoga bisa diambil sisi baiknya yaa..
Prinsipku, orang lain enggak perlu tau seberapa besar perjuangan yang aku lalui, untuk bisa hidup enak. Sampai orang-orang tuh bilang, “Enak banget ya jadi lo!”

Kedua perjalanan umrohku, enggak ngeluarin uang sama sekali. Aku modal doa. Usahaku lewat shalawat dan sedekah. Percaya atau enggak, ya emang gitu kenyataannya. Aku berkali-kali nganter orangtua ke bandara untuk berangkat umroh. Berkali-kali pula aku mendengar betapa asyiknya perjalanan umroh mereka di tanah suci. Sampai akhirnya aku ngerasa pingin ke sana juga. Tapi, kalau mengandalkan uang tabungan, mau sampai kapan uangku cukup untuk bayar biaya umroh dan uang sakunya?

Posisiku saat itu memang kerja. Ada penghasilan setiap bulan yang aku terima dari hasil kerjaku. Tapi, sebagai anak pertama dari empat bersaudara, aku enggak bisa mengandalkan uang itu sepenuhnya karena saat itu aku masih kuliah S1 semester 7. As u know, anak semester akhir gitu tuh lagi banyak-banyaknya pengeluaran kan.. ditambah lagi ketiga adikku saat itu masih sekolah di pesantren. Setidaknya aku yang meng-cover uang jajan bulanan mereka bertiga, yaa walaupun enggak seberapa. Bismillah. Saat itu niatku hanya satu, sedekah. Hehehe

Lantas, gimana dengan keinginanku untuk umroh?

Aku percaya, bahwa Allah enggak bakalan ngasih cobaan buat hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Dan enggak ada satu pun harapan juga keinginan yang mustahil untuk dicapai. Karena Allah adalah sebaik-baik pengatur rencana bagi ummat-Nya. Terserah Allah, gimana pun caranya yang penting judulnya aku bisa ibadah di tanah suci.

Aku bangun di sepertiga malam. Aku shalat tahajud. Gimana pun keadaannya, aku berusaha istiqomah. Seusai shalat tahajud, kututup dengan doa. Walaupun lagi haid, aku tetap bangun, meski aku enggak bisa shalat tapi aku masih bisa memperbanyak doa di sepertiga malam.

"Pada malam hari terdapat satu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan doa pada Allah, berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut tidaklah Allah akan memberikan apa yang ia minta. Waktu tersebut adalah pada sepertiga malam terakhir. Hal ini berlaku pada setiap malamnya." (HR. Muslim)

Aku download foto ka’bah di Masjidil Haram untuk dijadikan wallpaper hp. Supaya setiap aku buka hp, aku inget apa yang menjadi keinginanku dan aku bisa bershalawat.

Saat itu, aku sangat yakin bahwa suatu hari nanti aku akan pergi ke Masjidil Haram dan melihat ka’bah secara langsung. Biasanya kan hanya lihat ka’bah yang ada di sajadah aja. Hehehe

Amalan ini aku jadikan sebagai rutinitasku. Setiap hari. Enggak pernah bolong. Alhamdulillah. Enggak kerasa, setelah setahun berlalu, tibalah suatu hari di tahun 2016 aku berangkat umroh tanpa biaya sepeser pun. Yap! Dibayarin. Enggak cuma umrohnya, tapi juga uang saku dan segala perlengkapannya. Baarakallah!!!!!!!

Dari mana asalnya uang itu? dari Allah Yang Maha Kaya.

Allah menjadikan seseorang sebagai washilah-Nya untuk menyampaikan rezeki itu kepadaku. Tangis haru, bahagia, enggak bisa berkata-kata selain mengucap syukur. Alhamdulillah terima kasih Yaa Allah....

Ternyata benar apa kata Allah, bahwa Allah tergantung bagaimana prasangka hamba-Nya. Ketika kita berprasangka Allah akan mengabulkan apa yang kita minta, maka Allah akan benar-benar mengabulkannya. Tapi ketika kita berprasangka Allah enggak akan mengabulkan apa yang kita minta, maka Allah benar-benar tidak akan mengabulkan permintaan kita.

Perjalanan umroh pertamaku ini sekaligus jadi pertama kalinya aku naik pesawat. Aku dari kecil pingiiiiiiiinn banget naik pesawat, tapi Umi selalu bilang; "Umi maunya nanti pertama kali kamu naik pesawat pas berangkat umroh." Daaaannn keinginan Umi Allah kabulkan. Aku pertama kali naik pesawat langsung ke Jeddah. MasyaAllah Alhamdulillah..

Gimana perjalanan umroh yang kedua? Masih gratisan lagi? Masih!

Alhamdulillah. Perjalanan umrohku yang kedua, terlaksana dua tahun kemudian setelah perjalanan umroh pertamaku. Yap! Tahun 2018. Aku kembali minta sama Allah untuk diperjalankan kembali ke Mekah dan Madinah. Saat itu rasanya udah bener-bener kangeeeeeeeeennn banget sama tanah suci. Bahkan hampir setiap malam kebawa mimpi. Saking kangennya.

Aku ulangi lagi cara-cara yang aku lakukan di tahun 2016. Setengah tahun berjalan, akhirnya aku kembali umroh. Dan gratis lagi. Enggak pakai bayar. Enggak pakai nungguin uang tabungan cukup. Malah, waktu itu aku minta sama Allah begini;

“Yaa Allah, umrohin lagi dong. Tapi sekalian silaturahim ke Turki. Kata orang-orang, Turki bagus banget loh.. aku juga mau ke sana.”

Dan lagi-lagi Allah mengabulkan pintaku. Allah mewujudkan doaku. Aku umroh untuk yang kedua kali plus silaturahim ke Turki. Tanpa harus nabung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Masyaallah..

Eh.. nabung, deh.. tapi nabungnya pakai rakaat shalat tahajud, doa, shalawat, dan sedekah. Bukan  nabung pakai uang. Hehehe

Kalau bukan karena Allah dan atas izin Allah, enggak mungkin perjalanan ini bisa terlaksana.


***

Pelajaran yang diambil dari kisah perjalanan umrohku ini adalah betapa Allah tidak pernah ingkar dengan apa yang telah difirmankan-Nya di dalam Al-Qur'an.


Sekian.
Semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

My Only One Favorite Song

Perpustakaan Mini di Sudut Kota Bekasi

Acc Sidang Tesis Jalur Sholawat