Bergerak!

"Duh butuh motivator nih gue. Asli.", kalimat model begini sering kita denger dari lisan orang-orang sekitaran kita yang memang merasa dirinya lagi down. Lagi terpuruk. Bahkan enggak ngerti lagi apa yang harus dilakukan. Hilang arah tujuan. Tapi di satu sisi, dia sadar bahwa dia perlu bergerak. Bangkit. Bangun untuk terus melanjutkan upaya-upaya penggapaian impiannya. Makanya dia bilang dia butuh motivasi, butuh sosok seorang motivator. Seperti yang kita tau kan, bahwa gunanya seorang motivator yaa untuk memotivasi orang-orang, gitu kan?

Kita juga sering sekali mendengar pertanyaan-pertanyaan soal motivator dan motivasi. Misal,
"Siapa sih motivator terbaik menurut lo?"
"Kenapa sih lo bisa ngasih motivasi buat orang-orang sekitar lo?"
"Gila. Kok keren sih. Mau enggak kalau lo yang jadi motivator terbaik buat gue?"
dll.

Oke.
Melalui tulisan ini, aku mau menyadarkan kembali mindset temen-temen semua soal motivator dan motivasi. Emang sih, setiap orang pasti butuh sosok orang lain untuk bisa memberikan reminder untuk dia. Dan sosok itu pastinya beragam, dong. Bahkan ketika ditanya, "Siapa sosok motivator terbesar yang begitu berpengaruh dalam kehidupan lo?", jawabannya pun bakalan beda-beda banget.

Ada yang jawab,
"Oh sosok motivator buat gue pastinya Alm. Sapardi Djoko Damono, dong."
"Yah kalo gue sih, udah pasti Ahmad Fuadi."
"Eits, kalo gue mah, Aa Gym."
"Motivator gue yaa Rasulullah."
dsb.

Jawaban yang beragam ini enggak bisa kita seragamin. Kenapa? Karena setiap orang ingin menjadi sukses menurut versinya masing-masing. Itulah mengapa sosok motivator yang dijadikan "kiblat"nya pun enggak selalu sama.

Sekarang, aku mau tanya. Setelah ketemu/berinteraksi dengan seseorang yang disebut sebagai motivator itu, apakah semuanya langsung berubah? Apakah energi positif dari si motivator itu langsung nyetrum gitu aja? Misal, si motivator ini memotivasi orang-orang lewat channel youtubenya, lantas apakah setiap kali setelah kita nontonin video-videonya dia nih kita langsung bisa kena tujuan motivasinya? Jawabannya adalah ENGGAK.

Lho, kenapa enggak?

Enggak semua orang yang menyandang gelar sebagai motivator, sehebat apapun dia memotivasi, seindah apapun dia merangkai setiap kata yang keluar dari lisannya, sebagus apapun triknya, enggak akan berdampak apapun kalau dari diri kitanya sendiri enggak ada keinginan untuk tergerak.

Misal, kita rutin nontonin video motivasi dari seorang pengusaha hebat, karena kita pingin jadi seorang pengusaha yang hebat juga seperti dia. Tiap ada video baru, langsung tuh kita tontonin. Enggak pernah ketinggalan satu video pun. TAPI kitanya nonton doang. Palingan sambil ngebatin, "Ih, asyik yaa jadi pengusaha." Udah. Skip sampai disitu. Ennggak ada pergerakan. Enggak ada usaha bangkit. Enggak melakukan apapun. Kira-kira bisa enggak tuh kita jadi pengusaha? Enggak, lah!

Kudu ada yang namanya sinergi. Keterkaitan kuat antara si motivator dengan kita. Kudu ada pemaksaan dari dalam diri untuk bergerak. Kalau ada yang bilang, "Gue berubah setelah nonton video-video motivasi dari si A." Wah, boong banget. Perubahan diri kita itu akan ada ketika kita berhasil bergerak untuk mengubahnya. 

Jadi, sebetulnya kehadiran sosok motivator itu buat apa gunanya?

Kalau aku bilang, yang namanya motivator itu peran andilnya hanya di awal. Mereka membangkitkan semangat kita melalui energi positif yang mereka tularkan melalui setiap kata yang mereka sampaikan.  Kemudian? Ya kemudian terserah anda.

Keputusan untuk berubah dan bergerak semua ada di tangan kita masing-masing. Ada orang yang cuma dengerin doang, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ada orang yang berusaha gimana pun caranya supaya dia bisa bangkit dan melakukan apa yang disampaikan oleh sang motivator. Ada yang betul-betul mendengarkan, bahkan sampai dicatat poin-poin penting dari motivator, tapi enggak melakukan apapun. Kalau begitu, adakah perubahan dalam diri kita? Jelas, enggak ada.

Sebetulnya, motivator terbaik untuk diri kita adalah diri kita sendiri.

Setiap perubahan dalam hidup kita, ada di tangan kita. Bukan di tangan orang lain. Kita berhak memilih, mau ngikutin apa yang motivator sampaikan, atau enggak. Tetap diam dan tidak melakukan apa-apa juga pilihan, lho. Bukan motivatornya yang salah. Bukan energi positifnya yang kurang nyetrum. Tapi kitanya yang enggak mau bangkit.

Seberapapun keren seseorang yang kita jadikan sebagai motivator bagi kita, sampai kapanpun tidak akan berdampak untuk perubahan dalam diri kita.

***

Jadi, melalui tulisan ini aku menyampaikan bahwa enggak ada perubahan dalam diri kita yang bergantung kepada ucapan dan omongan orang lain, jika enggak ada perubahan apapun dari diri kita sendiri.

Pelajaran yang bisa diambil dari tulisan ini adalah bahwa kita berhak menjadikan diri kita sendiri sebagai seorang motivator.

Tidak perlu terlalu jauh mencari siapa yang akan memotivasi kita, TAPI jadikan diri kita sendiri agar bisa menjalankan perubahan-perubahan positif dalam diri.

Taharrak! Fa-inna fil-harakah, barakah.


Sekian.
Semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

Perpustakaan Mini di Sudut Kota Bekasi

Acc Sidang Tesis Jalur Sholawat

My Only One Favorite Song