Sosok Ummi..

Sering kali ku ditanya; "Siapa sih role model kamu?" Dan berulang kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Aku punya sosok role model tersendiri. Bukan artis, bukan wanita populer, bukan juga seorang wanita pejuang yang dikenal banyak orang karena popularitasnya. Siapa dia? Ummi. Ibuku. Aku memanggilnya dengan sebutan Ummi. Hehehe

Hingga suatu hari ada satu temanku bertanya; "Siapa sih, sosok wanita yang paling kamu kagumi? Sosok wanita yang paling berdampak banyak dalam kehidupan kamu? Bahkan sejak kamu lahir hingga detik ini.?" Bibirku tersenyum dan menjawab, "Ummi".

Bagiku, setiap anak perempuan enggak perlu repot-repot mencari sosok role model yang sempurna untuk ia tiru dalam segala hal positifnya. Cukup lihat satu-satunya wanita yang telah melahirkannya dengan segala perjuangannya di masa lalu, maka ia akan menemukan sosok itu.

Hebatnya, kuatnya, mandirinya, bahkan tangguh dan teguhnya patut aku teladani. Ummi enggak pernah mengeluh tentang kekecewaan apa pun di hadapan manusia. Ummi selalu bilang;

"Allah enggak pernah tidur dan selalu melihat apa yang kita lakukan. Jangan mengeluh di hadapan manusia, tapi mengeluhlah di hadapan Allah."

Ummi enggak pernah bosen ngingetin aku bahwa, "Hanya Allah yang mampu menolong kita. Maka, kalau pun keadaan ini memaksaku untuk mengeluh, keluhkan semuanya kepada Allah, bukan kepada manusia. Sedekat apapun kamu dengan temanmu yang bahkan sudah kamu anggap sebagai saudaramu sendiri, tetap hanya Allah yang berhak mendengarkan semua keluhanmu."

Bagaimana pun aku berada dalam kondisi buruk, Ummi selalu bilang, "Bangun di sepertiga malam, tengadahkan tanganmu kemudian berdoalah. Minta apapun yang kamu ingin minta. Ceritakan apapun yang ingin kamu ceritakan. Sampaikan bagaimanapun bentuk harapanmu hanya kepada-Nya."

Ummi, sosok perempuan yang paling kuat yang aku kenal. Ummi enggak pernah cerita tentang beban kehidupannya sejauh ini. Saat aku kecil, saat kondisi keluarga belum sebaik yang terlihat pada hari ini, bahkan saat Ummi belum mengenal Islam secara mendalam. Dicaci, dimaki, dipojokkan, dibully, menderita, aliran deras air mata di pipinya bukan menjadi penghalangnya untuk memasrahkan diri pada keadaan.

Saat itu, Ummi perlahan mulai mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Mulai datang ke sejumlah pengajian rutin demi mendapatkan ilmu agama yang lebih baik. Panas terik matahari pada siang hari bukan menjadi penghalang langkahnya.

Cita-cita terbesarnya adalah agar semua anaknya menjadi orang yang lebih baik darinya di masa depan nanti.

 "Semua anak Ummi enggak ada yang enggak baik, semuanya harus baik.", Kata Ummi. "Walaupun setiap anak pasti punya sifat dan kelebihan atau kekurangan masing-masing, tapi enggak menutup kemungkinan kan kalau semuanya bersinar dalam versinya masing-masing?"

Ummi selalu yakin dengan apa yang menjadi harapannya. Salah satu harapan terbesarnya yang sudah terwujud adalah mengajak semua anak-anaknya untuk ibadah umroh secara bergantian. "Kalau kita yang punya impian aja enggak yakin, gimana Allah mau mengabulkan?", kalimat yang sering Ummi ucapkan saat ngingetin aku tentang keyakinan akan terwujudnya sebuah impian.

Enggak hanya itu, Ummi juga ngajarin aku sebagai anak perempuannya untuk enggak cengeng, enggak menye-menye, dan enggak gampang ngeluh seperti perempuan-perempuan lain.

"Anak perempuan enggak boleh menye-menye dan cengeng.", Ummi.

Comments

Popular posts from this blog

My Only One Favorite Song

Perpustakaan Mini di Sudut Kota Bekasi

Acc Sidang Tesis Jalur Sholawat