Terima Kasih, Allah..

Bagi saya, hidup itu memang selalu berproses. Ya. Proses demi proses harus dilalui untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ada beragam proses, banyak proses, mau yg seneng ampe yg sedih, mau yg suka ampe yg duka, mau yg enak ampe yg ga enak, mau yg manis, asem, asin ampe yg pahit, kudu diterima. namanya juga proses.

Selain proses, hidup manusia pun butuh pengalaman. Dan sebaik-baik pengalaman adalah yg mengajarkan.

Namun, sering kali, kita, sebagai manusia merasa bahwa banyak pengalaman yang hanya lewat begitu saja. Tidak memberi sentuhan kepada yang mengalaminya. Tidak menggoreskan pelajaran dalam lembaran kehidupannya. Tidak juga menaruh sesuatu yang bisa diambil pelajarannya. Padahal sejatinya setiap pengalaman itu mengajarkan. Kitanya aja yang enggak peka.

Bicara soal proses dan pengalaman, saya ingin berbagi sedikit cerita yang pernah saya alami sebelum ini. Tepat setahun yang lalu, saya mengambil sebuah keputusan yang begitu besar dalam hidup saya. Ya. Kala itu, saya memutuskan untuk resign dari sebuah lembaga pendidikan yang bukan kaleng-kaleng. Bukan lembaga pendidikan biasa. Ini lembaga pendidikan yang sangat amat luar biasa. Banyak sekali orang-orang hebat yang terlibat di dalamnya. Berarti, saya juga termasuk hebat, dong karena saat itu sempat terlibat di dalamnya? Hehehe enggak juga, enggak bisa dibilang begitu. Saya justru memanfaatkan kesempatan selama berada di sana sebagai wadah saya dalam mempelajari banyak sekali hal-hal baru dalam hidup saya.

Belajar? Ya. Belajar.

Bagaimana tidak, saat bergabung di sana, saya bukan siapa-siapa (sampai hari ini pun saya masih bukan siapa-siapa). Saat itu, saya hanya seorang anak remaja yang polos, baru lulus dari sebuah pesantren dan enggak kenal dunia luar, kecuali dari cerita teman-teman sepantaran yang bilang bahwa dunia luar begitu keras. Untuk pengalamannya, nihil. Saya belum berpengalaman hidup di dunia luar, pada saat itu. Tapi justru saat itu, 8 tahun yang lalu, saya bertekad memberanikan diri untuk membuat sebuah keputusan yang amat besar dalam hidup saya. Apa itu? Kuliah sambil kerja.

Untuk sebagian orang, mungkin keputusan seperti ini terdengar tidak asing lagi. Banyak banget mahasiswa yang mengambil keputusan yang sama dengan saya saat itu. Namun, satu yang membuat saya nekad menjalaninya adalah saat saya menyatakan izin ke kampus untuk cuti kuliah selama satu tahun (sebagai syarat dari kembaga), saya justru tidak mendapat support alias dukungan dari pihak kampus. Beberapa dosen dan staff administrasi di kampus saya justru cenderung meremehkan saya. Bahkan terlontar beberapa kalimat yang cukup mengiris batin, "Kalau kamu kerja, nanti pas udah keenakan kerja malah jadi males kuliah.", "Apa? Kamu izin kuliah sambil kerja? Mau jadi apa kamu?", "Sekarang aja bahasanya izin, nanti juga lama-lama jadi berhenti kuliah.", dsb.

Dekan fakultas saya pun turut menanggapi izin yang saya ajukan ini dengan tanggapan yang tidak jauh berbeda, tapi bahasanya lebih hangat menyapa telinga saya, begini ucap beliau, "IPK kamu tinggi. Prestasi kamu bagus. Dedikasimu juga baik. Kenapa malah mau membagi waktu kuliah dengan kerja? Nanti kalau kamu malah enggak bisa menyeimbangkan diantara keduanya, gimana? Ini enggak gampang, lho nak.." Kalimatnya lebih ramah terdengar, bukan? Seolah beliau mengajak saya berdiskusi sebelum keputusan ini akhirnya ketok palu. Saat itu saya menjelaskan berbagai alasan yang mendasari saya memutuskan ini, dan beliau menerima. Beliau bahkan mendoakan saya agar kuliah saya tetap bisa bertahan sampai akhir dengan prestasi yang begitu memuaskan.

Dari bagian ini, saya mengambil pelajaran bahwa untuk menyampaikan pendapat, kita bisa mencari cara yang lebih baik agar tetap menjaga perasaan lawan bicara. Tidak menyakiti hatinya, apalagi membuatnya merasa down dan terpuruk akibat perkataan kita.

Akhir obrolan saya bersama Dekan fakultas di kampus itu menjadi awal dari perjalanan saya dalam memulai sebuah kisah baru dalam hidup saya. Merintis lembaga yang kini sudah tumbuh besar seiring berjalannya waktu. Menjadi lembaga pendidikan hebat yang luar biasa dicari oleh semua kalangan. Di sana, saya terus belajar banyak hal. Saya bertemu dengan orang-orang hebat dari segala sektornya. Saya mengenal karakter orang-orang yang cukup beragam, sebab manusia memang kompleks. Mereka semua bersikap begitu hangat. Welcome. Dan yang terpenting, mereka mau mengajari saya banyak hal. Menularkan kebaikan demi kebaikan. Memberikan saya begitu banyak kesempatan. Mereka bahkan tidak pernah mencela hasil kerja saya yang sebetulnya masih jauh dari kata profesional.

Intinya, proses grow up saya ada di lembaga itu. Sepanjang perjalanannya, yaa di sana. Dan saya sangat menikmatinya.

Delapan tahun saya bersama mereka. Melewati begitu banyak pengalaman. Melalui berbagai proses. Perjalanan ini begitu indah dan mahal. Kok mahal? Ya. Mahal. Karena enggak semua mahasiswa seperti saya yang pada saat itu baru duduk di semester 3, menjalani kuliah sambil kerja. Setidaknya, antara pekerjaan dan jurusan kuliah saya masih sejalan, maka apa yang saya dapatkan di bangku kuliah bisa langsung saya aplikasikan di lembaga pendidikan tempat saya bekerja. Muahal buanget, bukan?

Dengan kata lain, saya jadi enggak cuma dapat pelajaran berupa teori saja, tapi juga langsung sepaket dengan prakteknya.

Sekarang? Saya memulai perjuangan lain dengan merintis kembali sebuah lembaga pendidikan. Dimulai dari nol, di tempat yg berbeda. Tempat yg insyaallah juga dikaruniai banyak keberkahan dan senantiasa Allah ridhai. Merintis sebuah lembaga pendidikan bersama ibu, di tanah kelahiran saya. Bedanya, di sini saya bisa lebih banyak menyalurkan ide-ide kreatif, berkreasi, merealisasikan sebuah project yang merupakan salah satu misi dalam hidup saya sebagai aktivis sosial dan literasi, juga membuat wadah untuk anak-anak lebih mencintai kegiatan sosial dan juga cinta literasi sejak dini.

Terima kasih, Allah.. karena sudah memberikan berbagai kesempatan berharga untuk dilalui. Dari kesempatan-kesempatan itu saya jadi belajar banyak hal.

Saya percaya, bahwa ketika kita ikhlas menjalani hidup hari ini, akan semakin banyak hadiah-hadiah yang telah Allah siapkan untuk kita di masa depan.


Comments

Popular posts from this blog

My Only One Favorite Song

Perpustakaan Mini di Sudut Kota Bekasi

Acc Sidang Tesis Jalur Sholawat